“Ada banyak hal dalam hidup ini yang sulit aku tafsirkan, Man!”
Parman hanya diam menatap seorang wanita yang selama ini ia kagumi. Sosok yang selalu membayangi mimpi-mimpinya bila malam telah larut, dan hanya kelelahan yang menggelayuti tubuhnya. Yang dari hari ke hari semakin tiada menentu saja hidupnya.
Andai, dia mampu menjadi seorang laki-laki yang diharapkan Suti, dia akan meminang untuk dijadikan istri. Tapi apa daya, dan itu tak mungkin.
“Aku sangat terluka!”
Ditatapnya bola mata yang jernih di hadapannya. Tapi hanya beberapa saat saja. Dia tak kuat untuk menguasai diri. Lalu ia menunduk. Bola mata yang indah, yang sangat didambakan untuk mengisi hari-harinya.
“Jon, tak pernah mengerti kemauanku, Man!” keluh perempuan itu.
Hanya diam yang bisa dilakukan Parman. Ia tak ingin menyakiti hati perempuan itu dengan pernyataannya.
“Jangan diam saja dong, Man!”
Ia terperanjat. Baru menyadari bahwa salah juga jika hanya menjadi pendengar. Dicobanya untuk mengucapkan beberapa kata yang diplomatis.
“Cobalah komunikasikan kemauanmu itu dengan suamimu!”
“Sudah, Man! Dia tak pernah mau mendengar. Yang ada di otaknya hanya uang, kerja, dan kerja.”
Dikuatkan hatinya. Dicobanya kembali menatap perempuan di hadapannya. Ada kesedihan, kekecewaan, luka yang dalam. Tapi ia tak kuasa untuk menghilangkan- nya. Kalau saja, ia sudah punya pekerjaan yang mapan, akan ia katakan padanya: Maukah kau ikut denganku dan kita bangun rumah di atas bukit yang indah dengan anak-anak yang manis di dalamnya?
Tiba-tiba ia sadar. Ditepisnya pikiran itu. Semua hanya impian. Dia tidak mungkin bisa mewujudkannya. Bagaimana bisa menghidupi orang lain? Sedangkan menghidupi diri sendiri saja masih pontang-panting.
“Aku harus bagaimana?” Perempuan itu terus berkeluh dan butiran air mata menetes di pipinya. Ia mengusapnya dengan sapu tangan.
Parman hanya membisu. Dalam benaknya, apa kurangnya Suti? Rumah gedhong dilengkapi dengan perabot mewah, gonta-ganti mobil, semua kebutuhan telah dicukupi suaminya. Bukankah itu yang dia inginkan? Sekarang ia inginkan yang lebih dari itu semua. Kalau dulu ia punya cinta dan tak punya harta apakah Suti mau menerimanya? Tidak juga? Egois. Mau enaknya sendiri. Tapi ia hanya mampu tersenyum kecut. Kalau ia terluka, kenapa tidak mampu meninggalkan suaminya. Pikiran Parman gelisah. Kenapa perempuan ini sulit sekali ditebak kemauannya. Ia selalu ingin menuntut yang lebih.
“Aku kesepian, Man!”
Dada Parman bergemuruh kencang. Ternyata perasaannya terhadap Suti tak juga memudar, malah sebaliknya cintanya semakin membesar. Andai saja, dia tak bersuami mungkin saat ini ia akan mendekapnya erat-erat dan selalu menemaninya melewati hari-hari indah bersama tanpa rasa sepi sedikitpun.
Ia beranikan menatap bibir mungil di depannya. Perih hatinya. Ia tak mampu memberikan ketenangan bagi orang yang selama ini, diam-diam ia cintai. Bersamaan dengan itu, ia kaget. Tiba-tiba Suti menarik tangannya dan mengajaknya berlari.
“Man, ke sungai!”
Parman tak kuasa menolaknya. Tiba-tiba muncul rasa khawatir yang besar dalam dirinya, seandainya saja ada orang desa atau anak buah Joni yang melihat dia dan Suti bersama. Bagaimana tanggapan orang desa terhadapnya? Bagaimana sikap Joni pada Suti dan dirinya? Rasa takut mulai memenuhi perasaannya. Ingin dirinya meronta, melepaskan gandengan tangan Suti tapi genggaman tangan itu semakin kuat menahannya. Ia semakin gelisah.
“Aku kangen tempat ini!”
Nafas Suti tersengal-sengal dan saat itulah ia tahu, betapa indahnya bentuk buah dada yang mengikuti irama nafas itu. Ah, andai saja itu miliknya. Akhirnya ia berhenti dan bersandar pada pohon.
“Ingat nggak, Man? Tulisan yang kamu goreskan di pohon ini?”
Tubuh Parman membeku tak mampu digerakkan lagi. Ketakutan, bimbang, gelisah berbaur menjadi satu dalam pikirannya. Sedangkan Suti terus mengelilingi pohon tua itu, mencari-cari tulisan yang terpahat.
“Lihat , aku menemukannya!” Ia tersenyum lebar.
Ah, senyum yang manis sekali. Senyuman yang sama saat-saat indah bersama dahulu. Sebelum ia dibawa suaminya ke kota.
“Aku akan selalu menjaga Suti dari ancaman Bordin!” ia membacanya dengan keras.
Parman tersenyum simpul. Ia teringat masa kecilnya. Ia selalu bersama Suti bermain di pinggir sungai dan mengajarinya berenang. Hingga anak-anak lainnya merasa iri. Sampai pada akhirnya Bordin, selalu mengolok-oloknya dan menganggu Suti. Ketika itu Suti menangis. Kemudian ia berusaha menenangkannya dan berjanji untuk selalu menjaganya. Akhirnya ia mengajaknya ke pohon dekat sungai dan menuliskan janjinya. Sejak saat itu, ia selalu menjaga dan melindungi Suti dari kenakalan anak-anak lain. Bersama Suti, hari-hari selalu ia lalui dengan riang gembira. Dan saat ini, ia kembali ke desa dengan tangisan yang sama. Ia terluka karena Joni, suaminya. Akankah ia membelanya seperti saat kecil dulu?
Semuanya sudah berubah, Suti tak lagi anak-anak lugu yang selalu harus dilindungi. Ia sudah dewasa. Dan ia sudah bersuami. Tak ada daya baginya untuk melindunginya. Bukankah secara otomatis, janji itu sudah terlepas darinya?
“Kamu berpikir apa sih?”
Lamunan Parman buyar. Dengan mengalihkan perhatian, ia bangkit dari duduknya dan berjalan mengitari sungai, disusul oleh Suti.
“Kamu marah sama aku, Man?”
“Kenapa harus marah sama kamu?”
“Mungkin kau malu bersahabat denganku lagi setelah aku sudah tak lagi sendiri?”
Jadi selama ini Suti hanya menganggap dirinya seorang sahabat? Tidakkah perhatian yang selama ini ia berikan, lebih dari seorang sahabat? Apakah Suti tak tahu apa yang sedang berkecamuk dalam hatiku? Dihilangkan semua keinginan yang berlebihan itu dari pikirannya. Parman menyadari, bagaimana pun juga ia harus tahu diri dengan keadaan Suti? Ya, hanya seorang sahabat. Sampai saat ini pun sebagai sahabat tak lebih dari itu.
“Kau tetap sahabatku!” katanya datar.
“Makasih ya, Man!”
“Kembali, yuk! Hari sudah sore!”
Sepanjang jalan yang dilalui, keduanya hanya membisu dalam pikiran masing-masing. Parman mencoba menebak-nebak apa yang dipikirkan Suti. Tetapi sebaliknya, Suti berpikiran tentang hal yang harus dilakukan untuk memperbaiki hubungan dengan suaminya.
“Man, Aku harus kembali!”
Parman hanya menganggukkan kepala. Ingin sebenarnya mengantarkan Suti sampai ke rumahnya. Tapia pa kata orang nanti? Dan dengan apa dia harus mengantar? Sepeda pancal saja dia tak punya?
Suti mengeluarkan ponselnya. Nampaknya, ia menyuruh sopir menjemputnya. Beberapa menit kemudian, sopir itu telah berada di depannya. Sepertinya, sengaja sopir itu dari tadi menunggunya tak jauh dari rumah ini. Parman masih merasa terkagum-kagum melihat mobil mewah itu melintas di depan rumahnya. Dan ia tersenyum kecut menyadari kemiskinan yang menderanya saat ini.
Matahari telah menyembul ke permukaan langit. Hari sudah menjelang siang. Hari ini, Parman tak juga beranjak bangun dari tidurnya. Lagian, hari ini tak ada pekerjaan buatnya. Untuk apa bangun pagi-pagi, pikirnya.
Tapi keinginan itu diurungkan oleh suara ketukan pintu rumah. Ia segera menyibakkan selimut dan segera mengucek matanya. Barangkali saja ada kerja buatnya. Mungkin Haji Badrun akan menyuruhnya memangkas rumput di halaman rumahnya. Lumayan untuk beli rokok dan beras buat masak esok hari.
Dibukanya pintu itu sambil menyiapkan senyum ramah.
“Silahkan, masuk!” Ia terkejut ternyata yang ditemuinya bukan Haji Badrun tetapi Suti yang datang.
“ Maaf, aku nganggu ya, Man!”
Parman hanya tersenyum dan menyilakan Suti untuk duduk. Ia masuk ke dapur untuk mengambil air putih. Ya, hanya itu yang ia punya sebagai suguhan.
Di benak Parman, apalagi yang dialami Suti? Apakah suaminya telah melukai hatinya lagi?
“Hanya air putih, minumlah!”
“Ah, jadi merepotkan!”
Akhirnya Suti meneguk air putih itu. Sambil melirik Parman. Ia memberanikan diri untuk mengungkapkan keinginannya. Sedangkan Parman menerka-nerka apa yang ingin dikatakan Suti. Akhirnya ia beranikan memulai perkataan.
“Begini………!” Keduanya berbarengan ingin mengatakan sesuatu. Akhirnya Suti memulai pembicaraan.
“Man, Besok aku akan ke Bali!”
“Dengan siapa?” tanya Parman antusias.
Bali? Tempat yang sangat indah. Surga dunia, begitu kata kawan-kawan yang pernah pergi ke sana. Harapan itu semakin kuat, apalagi Parman tak pernah pergi jauh ke tempat lain. Hanya sebatas sekitar desa tempat ia tinggal. Seandainya Suti mengajak, dia harus menolaknya.
“Tentu saja dengan Jon, Man!”
Darah Parman berdesir. Keluh lidahnya. Tak ingin melanjutkan pembicaraan ini. Ditepisnya harapan untuk pergi dengan perempuan yang selama ini dicintainya. “Kami akan merayakan dua tahun pernikahan kami!” lanjut Suti dengan wajah berseri-seri.
“ Untuk itu, aku ingin kamu menjaga rumah kami!”
Perasaannya tambah berkecamuk. Gelisah menyelimuti relung jiwanya. Rasa dongkol dalam hatinya. Kekagumannya mulai memudar.
“Kamu mau, kan?” desak Suti.
Parman makin merunduk. Tak ada daya dalam tubuhnya. Ia seperti di tampar angin siang itu. Tak kuasa menahan beban perasaannya. Ia merasa tak pantas memiliki rasa cemburu pada istri orang lain. Yang pantas baginya hanya sebagai sahabat. Ya, seorang sahabat!"

Tidak ada komentar:
Posting Komentar